Senin, 14 Mei 2012

Psikologi Umum


PERANAN PSIKOLOGI DALAM PENDIDIKAN

MAKALAH
Dibuat dan Dipresentasikan Sebagai Salah Satu Tugas Kelompok Pada
Mata Kuliah Psikologi Umum

Dosen
Abdul Malik, S.Ag


Oleh :
Kelompok 9 (sembilan)
1.      Karina Noviyanti
2.      Dede Supiandi
3.      Desi Irma Yuliani
4.      Darajat P. Wiguna
5.      Yona Suhandi


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SUKABUMI
2010 M / 1430 H
BAB I
PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang Masalah
Tidak dapat diragukan lagi, bahwa sejak anak-anak manusia pertama-tama lahir kedunia, telah ada dilakukan usaha-usaha pendidikan. Manusia telah berusaha mendidik anak-anaknya, kendatipun dengan cara yang sangat sederhana. Demikian pula semenjak manusia saling bergaul, telah ada usaha-usaha dari orang-orang yang lebih mampu dalam hal-hal tertentu untuk mempengaruhi orang lain teman bergaul mereka, untuk kepentingan kemajuan orang-orang bersangkutan itu. Masalah pendidikan adalah masalahnya setiap orang dari dulu hingga sekarang, dan diwaktu-waktu yang akan datang.
Merupakan suatu keharusan bagi setiap pendidik yang bertanggung jawab, bahwa dia dalam melaksanakan tugasnya harus berbuat dalam cara yang sesuai dengan “keadaan” sianak didik. Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memahami sesama manusia, dengan tujuan untuk dapat memperlakukannya dengan lebih tepat. Karena ilmu pengetahuan psikologi mengenai anak didik dalam proses pendidikan adalah hal yang perlu dan penting bagi setiap pendidik. Sehingga seharusnya adalah kebutuhan setiap pendidik untuk memiliki pengetahuan tentang psikologi pendidikan. Maka dari itu psikologi berperan dalam dunia pendidikan.
ada hakikatnya psikologi pendidikan itu dibutuhkan oleh setiap orang karena kalau diingat bahwa setiap orang pada suatu saat tentu akan melakukan perbuatan mendidik. Kenyataan bahwa pada dewasa ini hanya para pendidik profesional saja yang mempelajari psikologi mengenai pendidikan tidaklah dapat dipandang sebagai hal yang memang sudah selayaknya.




1
 
 
B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang kami bahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :  
  1. Apa yang dimaksud psikologi?
2.   Apa itu pendidikan?
3.   Bagaimana penerapan psikologi dalam pendidikan?

C.    Tujuan
Adapun tujuan makalah ini adalah agar para mahasiswa diharapkan dapat :
1.   Menjelaskan mengenai psikologi.
2.   Menjelaskan tentang pendidikan.
3.   Bagaimana penerapan pendidikan dalam psikologi.
                                  

BAB II
PAMBAHASAN


A.    Psikologi
1.  Pengertian Psikologi
Dilihat dari arti katanya, psikologi berasal dari kata ” psyche” yang berarti jiwa atau nafas hidup, dan”logos” atau ilmu. Ditinjau dari arti katanya, psikologi dapat diartikan seolah-olah sebagai ilmu jiwa, yaitu ilmu yang mempelajari jiwa. Tetapi mengartikan psikologi sebagai ilmu yang mempelejari jiwa sebenarnya kurang tepet, karena dalam kenyataannya psikologi tidak mengkaji jiwa sebagai objeknya, karena jiwa merupakan sesuatu yang tidak dapat diamati secara konkrit, dan jiwa hanyalah merupakan salah satu aspek saja dari kehidupan individu secara keseluruhan. Psikologi mempelajari perilaku sebagai manisfestasi jiwa.
Apa yang hendak diselidiki oleh psikologi ialah segala sesuatu yang dapat memberikan jawaban apa sebenarnya manusia itu, mengapa ia berbuat demikian, apa yang mendorongnya berbuat demikian, apa maksud dan tujuan ia berbuat demikian, dengan singkat dapat kita katakan bahwa psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi dangan lingkungannya.
Perilaku yang dimksud adalah dalam pengertian yang luas sebagai manifestasi hayati(hidup) yang meliputi  :
·         Perilaku motorik adalah perilaku dalam bentuk gerakan seperti berjalan, berlari, duduk, dsb.
·         Perilaku kognitif adalah perilaku dalam yang berupa dorongan dari dalam individu, misalnya kemauan, motif, kehendak, nafsu, dsb.
·         Perilaku afektif adalah perilaku dalam bentuk perasaan atau emosi, seperti senang, nikmat, gembira, sedih, cinta, dsb.
3
 
Kesemua jenis perilaku itu merupakan suatu kesatuan yang saling berkaitan satu dengan yang lainnya.
Sebagai suatu ilmu pengetahuan, psikologi menggunakan metode-metode ilmiah (scientific methods) untuk mengumpulkan, mengolah, menganalisis, dan menafsirkan informasi yang berkenaan dengan perilaku individu. Beberapa metode yang dipergunakan antara lain eksperimen, observasi, klinis, psikometrika, dsb. Dengan demikian psikologi mencoba memberikan jawaban secara ilmiah terhadap pertanyaan tentang apa, mengapa, dan bagaimana perilaku individu. Hasil kajian yang berupa teori, prinsip atau generalisasi akan digunakan untuk memenuhi, mengontrol, dan meramalkan perilaku individu dalam berbagai aspek kehidupan.

2.      Definisi Psikologi
Secara umum psikologi diartikan ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala jiwa manusia. Karena para alhi jiwa mempunyai penekanan yang berbeda maka definisi yang dikemukakan juga berbeda-beda.
Diantara pengertian yang dirimuskan oleh para ahli itu antara lain sebagai berikut :
a)      Menurut Dr. Singgih Dirgagunarsa: Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
b)      Plato dan Aristoteles, berpendapat: Psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hakikat jiwa serta prosesnya sampai akhir.
c)      John Broadus Watson, memandang psikologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku tampak (lahiriah) dengan mengunakan metode observasi  yang objektif terhadap ransangan dan jawaban (responsi)
d)     Wilhelm wundt, tokoh psikologi eksperimental berpendapat bahwa psikologi merupakanilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalm diri manusia, seperti dalam perasaan panca indra, pikiran, feeling, dan kehendak.
e)      Woodworth dan Marquis berpendapat: psikologi ialah ilmu pengetahuan yang mempelajari aktivitas individu sejak dalam kandungan sampai meninggal dunia dalam hubungannya dengan alam sekitar.
f)       Knight dan Knight: “psychology may be defined as the systematic study of experience and behavior human and animal, normal and abnormal, individual and social.”
g)      Hilgert: “psychology may be defined as the science that studies the behavior of men and other animal.”
h)      Ruch: “psychology is sometime defined as the study of man, but this definition is too broad. The truth is that psychology is partly biological science and partly a social science, overlapping these two major areas and relating them each other.”

3.   Obyek Psikologi
Di muka telah dikatakan bahwa psikologi adalah ilmu yang berusaha menyelidiki manusia, jadi yang menjadi obyek daripada psikologi adalah manusia. Karena sifat-sifat manusia yang sangat kompleks dan unik, maka obyek psikologi biasanya dibedakan menjadi dua macam:
a.       Obyek material, yakni obyek yang dipadang secara keseluruhannya. Adapun obyek material dari psikologi ialah manusia. Manusia, di samping menjadi obyek psikologi juga menjadi obyek bagi ilmu-ilmu yang lain.
b.      Obyek formal, jika dipandang menurut aspek yang dipentingkan dalam penyelidikan psikologi itu. Dalam hal ini maka obyek formal dari psikologi adalah berbeda-beda menurut perubahan zaman dan pangdangan para ahli masing-masing. Pada zaman Yunani samapi dengan abad pertengahan misalnya, yang menjadi obyek formalnya adalah hakikat jiwa. Kemudian pada masa Descartes obyek psikologi itu ialah gejala-gejala kesadaran, yakni apa-apa yang langsung kita hayati dalam kesadaran kita: tanggapan, perasaan, emosi-emosi, hasrat, kemauan, dsb. Pada aliran Behaviorisme yang timbul di Amerika pada permulaan abad ke-20 ini yang menjadi obyeknya ialah tingkah laku manusia yang tampak (lahiriah). Sedangkan pada aliran psikologi yang dipelopori oleh Freud, obyeknya adalah gejala-gejala ketidaksadaran manusia.

4.      Pendekatan Psikologi
Dalam pengkajian terhadap perilaku, terdapat berbagai jenis pendekatan dalam memberikan penjelasan mengenai apa, mengapa, dan bagaimana prilaku individu. Pendekatan-pendekatan utama ialah sebagai berikut:
a)      Pendekatan behaviorisme, lebih mengutamakan hal-hal yang nampak dari individu. Menurut pendekatan ini, perilaku itu adalah segala sesuatu yang dapat diamati oleh alat indera kita sebagai hasil interaksi dengan lingkungan. Dalam interaksi dengan lingkungan, individu menerima stimulus (rangsangan) dengan response (tindak balas). Pendekatan behaviorisme ini sering pula disebut sebagai teori S-R (teori stimulus-response). Beberapa tokoh psikologi dalam pendekatan ini antara lain: Watson, Skinner, Pavlov, dan Thorndike.
b)      Pendekatan psikoanalisa, lebih mengutamakan hal-hal yang berada di bawah kesadaran individu. Pendekatan ini menganggap bahwa perilaku individu dikontrol oleh bagian yang tidak sadar. Tokoh utama psikoanalisa ialah Sigmund Freud, yang mrngatakan bahwa kepribadian terdiri atas tiga unsur, yaitu Id, Ego, dan Super Ego. Semua perilaku digerakkan oleh kekuatan di bawah sadar yang disebut libido.
c)      Pendekatan kognitif, menjelaskan bahwa perilaku itu sebagai proses internal (di dalam). Pendekatan ini menganggap bahwa perilaku merupakan suatu proses input-output yaitu penerimaan dan pengolahan informasi, untuk kemudian menghasilkan keluaran. Individu bukanlah menerima rangsangan yang pasif, akan tetapi di dalam kesadarannya (otak) terjadi suatu proses yang aktif mengolah dan mengubah informasi yang diterima menjadi bentuk baru yang lebih sesuai. Keluaran yang berupa perilaku akan banyak tergantung pada pembendaharaan (simpanan) dalam kesadaran atau otak individu. Tokoh-tokoh dalam pendekatan ini antara lain: Piaget, Ausubel, dan Brunner.
d)     Pendekatan humanistik, lebih menekankan pada martabat kamanusiaan pada individi yang berbeda dengan hewan dan mahluk lainnya. Menurut pendekatan ini, manusia sudah sejak awalnya mempunyai dorongan untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia di lingkungannya. Setiap individu bertanggung jawab terhadap tindakannya nasing-masing. Perilaku individu terjadi karena adanya kebutuhan yang mendorong untuk mewujudkan dirinya (self-actualization). Tokoh-tokoh dalam kelompok pendekatan ini adalah Maslow dan Carl Rogers.
e)      Pendekatan neurobiologi, yang mangaitkan perilaku individu dengan kejedian-kejadian di dalam otak dan sistem syaraf. Menurut pendekatan ini, perilaku seseorang amat tergantung pada posisi otak dan sistem syarafnya. Apabila otak dan syaraf terganggu, maka perilaku akan terganggu pula.

5.       Jenis-Jenis Psikologi
Sebagai suatu ilmu pengetahuan, psikologi telah banyak dipergunakan dalam berbagai bidang kehidupan, seperti pendidikan, ekonomi, perdagangan, industri, hukum, politik, militer, sosial, kesehatan, manajemen dan administrasi, pengajaran, kepemimpinan, pelatihan, agama, dsb. Sehubungan dengan itu, kemudian timbul berbagai cabang-cabang psikologi yang mengkaji perilaku dalam situasi yang khusus, baik untuk tujuan teoritis maupun praktis.
Psikologi umum ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari kegiatan-kegiatanatau aktivitas psikis manusia pada umumnya yang dewasa, yang normal dan yang beradab (berkultur). Psikologi umum berusaha mencari dalil-dalil yang bersifat umum daripada kegiatan-kegiatan atau aktivitas psikis. Psikologi umum memandang manusia seakan-akan terlepas dari manusia yang lain.
Psikologi khusus ialah psikologi yang menyelidiki dan mempelajari segi-segi kekhususan dari aktivitas psikis manusia. Hal-hal yang khusus yang menyimpang dari hal-hal yang umum dibicarakan dalam psikologi khusus.
Beberapa jenis psikologi khusus antara lain:
·         Psikologi perkembangan, yang mengkaji perilaku individu yang berada dalam proses perkembangan sejak kehidupan dimulai (konsepsi) sampai akhir kehidupan (mati).
·         Psikologi sosial, yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi sosial.
·         Psikologi abnormal, yang mengkaji perilaku individu yang tergolongan abnormal.
·         Psikologi komparatif, yang mengkaji perbandingan perilaku manusia dengan perilaku binatang.
·         Psikologi diferensial, yang mengkaji perbedaan perilaku antar individu.
·         Psikologi keperibadian, yang mengkaji perilaku individu secara khusus dari aspek kepribadiannya.
·         Psikologi pendidikan, yang mengkaji perilaku individu dalam situasi pendidikan.
·         Psikologi industri, yang msngkaji perilaku individu dalam akitan dengan dunia industri.
·         Psikologi klinis, yang mengkaji perilaku individu untuk keperluan penyembuhan.
·         Psikologi kriminal, yang mengkaji perilaku individu dalam situasi kriminal.
·         Psikologi militer, yang mengkaji perilaku individu dalam situasi kemiliteran.

6.      Metode-metode dalam Psikologi
Objek psikologi adalah penghayatan dan perbuatan manusia, perbuatan manusia dalam alam yang kompleks dan selalu berubah. Jiwa bukanlah sesuatu benda yang mati, tetapi sesuatu yang hidup dinamis, selalu berubah untuk maju menuju kesempurnaannya. Oleh karena itu penggunaan suatu metode, bagaimanapun baiknya pasti tidak dapat menghasilkan kebenaran yang mutlak. Sebab tiap metode punya kelemahan di samping kebaikan.
Dengan demikian, dalam menyeladiki, hendaknya juga digunakan banyak metode. Ini dimaksudkan agar kelemahan metode yang satu dapat ditutupi oleh kesempurnaan pada metode yang lain.
Berdasarkan renungan dan pengalaman maka akan didapatkan metode sebagai berikut:
a)      Metode yang bersifat filosofis.
1)      Metode Intuitif
Metode ini dilakukan dengan cara sengaja untuk mengadakan suatu penyeladikan atau dengan tidak sengaja dalam pergaulan sehari-hari. Dalam keadaan yang terakhir itu kita mengadakan penilaian. Langkah sepertiini justru kesan pertamalah yang paling besar peranannya dalam pengambilan kesimpulan. Metode ini kurang memenuhi syarat, karena harus dikombinasikan dengan metode-metode lain guna memperoleh kesimpulan yang valid.
2)      Metode Kontemplatif
Metode ini dilakukan dengan jalan merenungkan objek yang akan diketahui dengan mempergunakan kemampuan berpikir kita. Alat utama yang digunakan adalah pikiran yang benar-benar sudah dalam keadaan objektif. Metode ini tidak sepopuler metode yang bersifat empiris. Karena hasilnya dianggap terlalu spekulatif. Namun demikian metode ini masih digunakan dalam dunia psikologi.
3)      Metode Fisolofis Religius
Metode ini digunakan dengan menggunakan materi agama, sebagai alat utama untuk meneliti pribadi manusia. Nilai-nilai yang terdapat dalam agama itu merupakan kebenaran absolut dan pasti. Dengan kata lain, kita menyelidiki jiwa manusia beserta segala seginya dengan menggunakan materi yang tertera dalam kitab suci sebagai norma standar penilaian.

b)     Metode yang bersifat empiris.
1)      Metode Observasi
Metode observasi ialah metode untuk mempelajari kejiwaan dengan sengaja mengamati secara langsung, teliti, dan sistematis. Dalam hal ini observasi dapat melalui tiga cara, yaitu:
(a)    introspeksi (retrospeksi).
Istilah “introspeksi” berasal dari bahasa Latin: (intro: dalam; dan spektare: melihat). Jadi pada introspeksi individu mengalami sesuatu, dan ia sendiri dapat pula mengamati, mempelajari apa yang dihayati itu.
Kelemahan dalam metode introspeksi:
(1)   Kesulitan pada manusia melakukan dua tugas menghayati dan mengingat kembali.
(2)   Pada introspeksi faktor ingatan kadang-kadang menghambat proses, yaitu adanya faktor krlupaan dan pencampuradukan antara fantasi dan ingatan.
(3)   Kekurangan perbendaharaan bahasa di dalam melikiskan kembali peristiwa yng sudah dan sedang terjadi.
(4)   Kadang-kadang diragukan objrktivitasnya oleh karena adanya ketidakjujuran.


(b)   Introspeksi eksperimental.
Istilah introspeksi eksperimental adalah suatu metode introspeksi, yang dilaksanakan dengan mengadakan eksperimen secara sengaja dan dengan suasana yang dibuat.
(c)    Ekstrospeksi.
Ekstrospeksi adalah suatu metode dalam ilmu jiwa yang berusaha untuk  menyelidiki atau mempelajari dengan sengaja dan teratur gejala-gejala jiwa sendiri denga membandingkan gejala orang lain dan mencoba mengambil kesimpulan dengan melihat gejala-gejala jiwa yang ditunjikan dari mimik dan pantomimik orang lain.

2)      Metode Pengumpulan Bahan
Dengan teknik ini, dimaksudkan suatu penyelidikan yang dilakukan mengolah data-data yang didapat dari kumpulan daftar pertanyaan dan jawaban (angket), bahan-bahan riwayat hidup ataupun bahan-bahan lain yang berhubungan dengan apa yang sedang diselidiki. Data-data yang diperoleh itu kemudian diklasifikasikan untuk kemudian ditarik kesimpulan. Dalam rangka mendapatkan data dengan teknik pengumpulan bahan ini peneliti dapat menempuh dengan melalui tiga cara:
(a)    Metode Angket-interviu
Metode angket ialah suatu penyelidikan yang dilaksanakan dengan menggunakan daftar pertanyaan mengenai gejala-gejala kejiwaan yang harus dijawab oleh orang banyak, sehingga berdasarkan jawaban yang diperolehnya itu, dapat diketahui keadaan jiwa seseorang.
(b)   Metode Biografi
Metode ini merupakan lukisan atau tulisan perihal kehidupan seseorang, baik sewaktu ia masih hidup maupun sesudah meninggal.
(c)    Metode Pengumpulan Bahan
Metode ini merupakan suatu metode yang dilaksanakan dengan jalan mengumpulkan bahan, terutama pengumpulan gambar yang dibuat oleh anak-anak.
3)    Metode Eksperimen (Percobaan)
Istilah eksperimen dalam psikologi berarti pengamatan secara teliti terhadap gejala-gejala jiwa yang kita timbulkan dengan sengaja. Hal ini dimaksudkan untuk “menguji” hipotesis pembuat eksperimen tentang reaksi-reaksi individu atau kelompok dalam suatu situasi tertentu. Jadi, tujuan eksperimen ialah untuk mengetahui sifat-sifat umum dari gejala-gejala kejiwaan.
4)      Metode Klinis
Metode klinis ialah nasihat dan bantuan kedokteran yang diberikan kepada para pasien, oleh ahli kesehatan. Metode klinis yang diterapkan dalam psikologi ialah kombinasi dari bantuan klinis medis dengan metode pendidikan, untuk melakukan observasi terhadap para pasien.
5)      Metode Interviu
Interviu merupakan metode penyelidikan dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan, pertanyaan dalam bentuk lisan.
6)      Metode Testing
Metode ini merupakan metode penyelidikan yang mernggunakan soal-soal, pertanyaan-pertanyaan, atau tugas-tugas lain yang telah distandarisasikan.
7)       Tujuan Mempelajari Psikologi
·         Untuk memperoleh pemahaman tentang gejala-gejala jiwa dan pengertian yang lebih sempurna tentang tingkah laku sesama manusia pada umumnya dan anak-anak pada khususnya.
·         Untuk mengetahui perbuatan-perbuatan jiwa serta kemampuan jiwa sebagai sarana untuk mengenal tingkah laku manusia atau anak.
·         Untuk mengetahui penyelenggaraan pendidikan dengan baik.

B.     Pendidikan
1.      Pengertian Pendidikan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan diartikan sebagai proses pembelajaran bagi individu untuk mencapai pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi mengenai obyek-obyek tertentu dan spesifik. Pengetahuan tersebut diperoleh secara formal yang berakibat individu mempunyai pola pikir dan perilaku sesuai dengan pendidikan yang telah diperolehnya.
Menurut bahasa Yunani, pendidikan berasal dari kata "Pedagogi" yaitu kata "paid" artinya "anak" sedangkan "agogos" yang artinya membimbing "sehingga " pedagogi" dapat di artikan sebagai "ilmu dan seni mengajar anak".
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Menurut Wikipedia,  pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Dari pernyataan diatas dapat di tarik kesimpulan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
2.       Tujuan Pendidikan
Menurut UU No. 2 Tahun 1985 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan dan bertagwa kepada tuhan yang maha esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan kerampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan berbangsa.
Tujuan Pendidikan nasional menurut TAP MPR NO II/MPR/1993 yaitu  Meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja profesional serta sehat jasmani dan rohani.
Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan memepertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawaan sosial, serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan.
Menurut TAP MPR No 4/MPR/1975, tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila dan untuk membentuk manusia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki pengetahuan dan keterampilan yang dapat mengembangkan kreatifitas dan tanggung jawab dapat menyuburkan sikap demokratis dan penuh tenggang rasa, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi dan disertai budi pekerti yang luhur, mencintai bangsanya dan mencintai sesama manusia sesuai dengan ketentuan yang termaktub dalam UUD 1945, Bab II (Pasal 2, 3, dan 4).
3.     Batasan tentang Pendidikan
Batasan tentang pendidikan yang dibuat oleh para ahli beraneka ragam, dan kandungannya berbeda yang satu dari yang lain. Perbedaan tersebut mungkin karena orientasinya, konsep dasar yang digunakan, aspek yang menjadi tekanan, atau karena falsafah yang melandasinya.

a.  Pendidikan sebagai Proses transformasi Budaya
Sebagai proses transformasi budaya, pendidikan diartikan sebagai kegiatan pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi yang lain. Nilai-nilai budaya tersebut mengalami proses transformasi dari generasi tua ke generasi muda. Ada tiga bentuk transformasi yaitu nilai-nilai yang masih cocok diteruskan misalnya nilai-nilai kejujuran, rasa tanggung jawab, dan lain-lain.
b. Pendidikan sebagai Proses Pembentukan Pribadi
Sebagai proses pembentukan pribadi, pendidikan diartikan sebagi suatu kegiatan yang sistematis dan sistemik terarah kepada terbentuknya kepribadian peserta didik. Proses pembentukan pribadi melalui 2 sasaran yaitu pembentukan pribadi bagi mereka yang belum dewasa oleh mereka yang sudah dewasa dan bagi mereka yang sudah dewasa atas usaha sendiri.
c. Pendidikan sebagai Proses Penyiapan Warganegara
Pendidikan sebagai penyiapan warganegara diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk membekali peserta didik agar menjadi warga negara yang baik.

d. Pendidikan sebagai Penyiapan Tenaga Kerja
Pendidikan sebagai penyimpana tenaga kerja diartikan sebagai kegiatan membimbing peserta didik sehingga memiliki bekal dasar utuk bekerja. Pembekalan dasar berupa pembentukan sikap, pengetahuan, dan keterampilan kerja pada calon luaran. Ini menjadi misi penting dari pendidikan karena bekerja menjadi kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia.
e. Definisi Pendidikan Menurut GBHN
GBHN 1988(BP 7 pusat, 1990: 105) memberikan batasan tentang pendidikan nasional sebagai berikut: pendidikan nasiaonal yang berakar pada kebudayaan bangsa indonesia dan berdasarkan pancasila serta Undang-Undang Dasar 1945 diarahkan untuk memingkatkan kecerdasan serta dapat memenuhi kebutuhan pembangunan nasional dan bertanggung jawab atas pembangunan bangsa.
4.       Unsur-Unsur Pendidikan
Proses pendidikan melibatkan banyak hal yaitu:
a.       Subjek yang dibimbing (peserta didik).
b.      Orang yang membimbing (pendidik).
c.       Interaksi antara peserta didik dengan pendidik (interaksi edukatif).
d.      Ke arah mana bimbingan ditujukan (tujuan pendidikan).
e.       Pengaruh yang diberikan dalam bimbingan (materi pendidikan).
f.       Cara yang digunakan dalam bimbingan (alat dan metode).
g.      Tempat dimana peristiwa bimbingan berlangsung (lingkungan pendidikan).

C.    Peranan Psikologi dalam Pendidikan
Pedidikan dan pengajaran tampaknya dapat dianggap sebagai bidang profesi yang paling banyak memanfaatkan penerapan psikologi. Khususnya dalam pendidikan dan pengajaran persekolahan.
Program-program dalam persekolahan yang memanfaatkan hasil penelitian psikologi antara lain:
1)      Pengajaran
Bagi para pendidik, pengetahuan tentang psikologi yang dimiliki akan membantu dalam menghadapi anak didiknya. Misalnya, bagaimana memanfaatkan hasil penilaian pendidikan sehingga dapat mendorong anak belajar, bagaimana memanfaatkan alat peraga dalam mengajar, dan lain sebagainya. Betapa banyaknya sumbangan psikologi dalam dunia pengajaran ini sehingga perly sekali., bagi calon guru dibekali psikologi sebelum ia melakukan tugasnya.



2)      Kurikulum
Dasar-dasar psikologi digunakan untik menyusun program pengajaran, yang sesuai dengan masa perkembangan anak, kebutuhan-kebutuhan anak, minat anak, dan lain sebagainya.
3)      Disiplin dan peraturan
Pembuatan peraturan-peraturan sehingga dengan sukarela anak mau menurutinya, penciptaan suasana sekolah yang menyenangkan, dan lain sebagainya.
4)      Human relationships
Hubungan antar-personal di sekolah sehingga dinamika kerja lebih efektif dan efisien menyangkut hubungan sesama guru, antara guru dengan kepala sekolah, antara guru dengan murid, antara guru dengan tata usaha, dan seterusnya.

Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, tidak akan mungkin dapat dilepaskan dari psikologi. Karena dalam pendidikan berhubungan erat dengan manusia. Jika kita membicarakan tentang manusia, maka akan banyak ilmu pengetahuan yang muncul berkaitan dengan eksistensi manusia.
Manusia memiliki kecenderungan untuk mempelajari dirinya sendiri, sehingga muncul suatu ilmu yang mempelajari diri sendiri manusia, atau dengan kata lain manusia ingin mengetahui keadaan manusia sendiri, manusia menjadi objek studi dari manusia. Hal ini yang memunculkan ilmu pengetahuan baru yang disebut psikologi, yang lebih menekankan kepada aspek pemahaman dan pengkajian sesuatu dari sudut karekateristik dan perilaku manusia, khususnya manusia sebagai individu.
Individu yang dimaksud adalah individu manusia, namun bukan manusia pada umumnya, melainkan manusia yang memiliki keunikan dan karakteristik tertentu yang bersifat spesifik. Hal ini yang membedakan psikologi dengan cabang-cabang ilmu lain yang sama-sama mengkaji tentang manusia.
Adapun pendidikan, merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang lebih menekankan kepada mendidik, membimbing dan mengarahkan manusia menuju arah yang lebih baik, secara jasmani maupun rohani. Sehingga antara pendidikan dan psikologi tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena keduanya saling mendukung dan saling melengkapi. Untuk mewujudkan manusia yang bertingkah laku atau berperilaku lebih baik, maka manusia itu harus dididik dalam suatu proses pendidikan. Pendidikan sendiri tidak akan berjalan secara optimal, efektif dan efisien apabila mengesampingkan faktor psikologis manusia.
Dalam proses pendidikan manusia memiliki karakteristik dan keunikan yang berbeda satu sama lain. Hal ini membutuhkan pengelolaan yang berbeda. Bagitu pun apabila ditinjau dari sudut perkembangan, pertumbuhan, jenis kelamin manusia tersebut menunjukkan bahwa proses pendidikan yang dilakukan tidak akan sama. Oleh karena itu, penting bagi pendidik maupun calon pendidik untuk menguasai ilmu pengetahuan psikologi, agar dalam proses pendidikannya mampu mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi pada peserta didiknya.
Adapun dalam kajian ini berupaya untuk mengeksplorasi peranan psikologi dalam pendidikan. Apa peranan yang diberikan psikologi dalam pendidikan? Apakah tujuan pendidikan akan tercapai apabila mengesampingkan aspek psikologis ini? Prolematika tersebut muncul karena dalam pendidikan tidak bisa dilepaskan dari dukungan cabang ilmu psikologi ini.
Sebelum psikologi memasuki lembaga yang menghasilkan tenaga berpendidikan telah berkembang beberapa anggapan bahwa pengetahuan dan penguasaan akan bahan pelajaran secara otomatis akan memberikan kemampuan atau kompetensi untuk mengajarkanya. Anggapan lainnya, jika kemampuan dan keterampilan mengajar terpisah dari pengetahuan tentang bahan pelajaran yang ada, maka kemampuan dan ketrampilan tersebut merupakan pembawaannya. Dengan kata lain, anggapan yang terakhir, melahirkan pernyataan “guru-guru/ pendidik dilahirkan sebagai guru/pendidik, bukannya dipersiapkan” (teachers are born, not made).
Sudah tentu, kedua anggapan tersebut tidak menunjukkan keahliannya, baik seluruhnya maupun sebagian. Terhadap anggapan pertama, keahlian atau validitasnya dapat digugurkan berdasarkan atas pengalaman sehari-hari. Suatu gejala yang sudah lazim terdapat pada pengalaman tiap orang menunjukkan bahwa sarjana baik laki-laki maupun wanita, betapapun kompetennya, namun belumlah tentu dapat menjamin dia mampu menyampaikan pengetahuannya kepada para peserta didik dengan baik. Sebaliknya, cukup banyak sarjana yang kurang kompeten, ternyata lebih berhasil sebagai pendidik/guru.
Sedangkan terhadap anggapan yang kedua, tidak sepenuhnya mengandung kesahihan. Memang, tak seorang pun menyangkal bahwa tiap-tiap orang ada ketidaksamaan dalam hal bakat pembawaan mengajar. Paling tidak ada dua hal – yaitu dalam hal kemampuan untuk menemukannya secara intuitif atau belajar dari orang lain tentang prinsip-prinsip belajar-mengajar yang sahih dan dalam hal kemampuannya untuk melaksanakan prinsip-prinsip tersebut dengan berhasil. Perkiraan yang tepat adalah sebagian mereka yang berintelegensi normal akan dapat memanfaatkan dan mengambil keuntungan sebagian pengajaran yang sistematis yang dibenarkan secara logis dan empiris tentang sifat dan kemudahan dalam proses belajar. Bagi mereka yang kurang berbakat, setidak-tidaknya akan dapat menjadi guru yang baik, sedangkan bagi mereka yang berbakat lebih baik, justru akan dapat mengembangkan dengan lebih baik lagi tiap kapasitas yang dimilikinya.
Bagaimanapun, yang ideal ialah dilakukannya proses seleksi yang sedemikian rupa dalam penerimaan calon pendidik/guru agar psikologi pendidikan benar-benar dapat memainkan peran dan fungsinya dengan jelas.
Untuk memperkuat uraian tersebut, baiklah dikemukakan contoh sebagai berikut, jika orang hendak mengajarkan bidang studi matematika atau bidang studi pendidikan agama, misalnya. Paling tidak ia perlu memahami dan menguasai empat hal, yaitu: pertama, tujuan yang ingin dicapai; kedua, materi yang akan disampaikan; ketiga, sifat dan hakikat anak didik; dan keempat, metode mengajar dan alat-alat peraganya.
Terhadap masalah yang kedua, yaitu yang menyangkut masalah atau materi yang akan disajikan, biasanya telah dipelajari calon pendidik/guru sebelum ia disiapkan secara teknis untuk menjadi guru/pendidik. Terhadap masalah pertama dan keempat, yaitu tujuan yang ingin dicapai dan metode mengajar dan alat-alat peraga yang diperlukan, kesemuannya dapat dimasukkan ke dalam seni dan ketrampilan mengajar serta prosedur pengembangan dalam proses belajar mengajar. Sedangkan terhadap masalah yang ketiga, yaitu sifat hakikat peserta didik, ini menyangkut pengetahuan dan pemahaman kejiwaan anak didik, ini menyangkut pengetahuan dan pemahaman kejiwaan anak didik dalam proses belajarnya. Dan terhadap masalah yang terakhir inilah nampak dengan jelas betapa pentingnya psikologi pendidikan bagi guru/pendidik, maupun calon pendidik.
Jadi, berdasarkan atas uraian di atas, dapatlah ditegaskan bahwa psikologi pendidikan sebagai suatu ilmu pengetahuan merupakan suatu keharusan di lembaga-lembaga pendidikan guru/pendidik. Dan penegasan ini pun mendasarkan atas dua dimensi pemikiran. Pertama, sifat dan jenis belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya yang kemudian dapat diidentifikasikan secara meyakinkan. Kedua, pengetahuan yang serupa itu dapat disistematisasikan dan disampaikan secara efektif kepada para calon pendidik/guru. Dari kedua dimensi pemikiran inilah para calon pendidik/guru dapat mengambil manfaat dan keuntungannya.
Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran.
BAB III
KESIMPULAN

Psikologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mengkaji perilaku individu dalam interaksi dangan lingkungannya.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spiritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Pendidikan sebagai suatu proses perubahan tingkah laku, sekaligus juga proses interaksi antara peserta didik dan pendidik dalam suatu lingkungan tertentu. Senantiasa tidak bisa dipisahkan dari psikologi. Karena memang obyek dari pendidikan itu sendiri adalah individu manusia yang memiliki perilaku, karakteristik dan kemampuan yang berbeda satu sama lain. Di sinilah peran penting psikologi sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang perilaku individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Oleh karena itu, wajib bagi suatu lembaga yang mencetak kader-kader pendidik/guru untuk memberikan ilmu pengetahuan psikologi kepada mereka calon pendidi tersebut. Adapun untuk para pendidik/guru sudah selayaknya menguasai ilmu psikologi ini, agar dalam proses belajar mengajar bisa meminimalisir kegagalan dalam penyampaian materi pelajarannya. Walaupun demikian, perlu disadari bahwa psikologi pendidikan bukan merupakan satu-satunya syarat untuk mempersiapkan dan menjadikan seseorang bisa menjadi pendidik/guru yang baik. Sebab, masih cukup banyak persyaratan lainnya, antara lain, bakat, minat, komitmen, motivasi dan latihan serta penguasaan metodologi pengajaran.






21
 
 
DAFTAR PUSTAKA
Soemanto, Wasty, 1990. Psikologi Pendidikan, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Suryabrata, Sumadi, 1989. Psikologi Pendidikan, Jakarta: CV. Rajawali.
Purwanto, Ngalim, 1990. Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Surya, Mohamad, 2004. Psikologi Pembelajaran dan Pengajaran, Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Ahmadi, Abu,2009. Psikologi Umum, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Nasrudin, Endin, 2008. Psikologi Pembelajaran, Sukabumi: STAI Sukabumi Publishing.
www.google.com



 






22
 

KATA PENGANTAR
 


Bismillahirahmanirrahim,
Segala puji hanya untuk Allah, Tuhan seru sekalian alam. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, Rasulullah terakhir yang diutus dengan membawa syari’ah yang mudah, penuh rahmat, dan membawa keselamatan dalam kehidupan dunia dan akhirat.
Makalah berjudul Penerapan Psikologi dalam Pendidikan ini disusun untuk memenuhi tugas kelompok pada mata kuliah psikologi umum. Kami telah berusaha semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang ada agar makalah ini dapat tersusun sesuai harapan.
Sesuai dengan fitrahnya, manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan, maka dalam makalah yang kami susun ini pun belum mencapai tahap kesempurnaan.
Kami sampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang turut membantu dalam proses penyelesaian makalah ini, khususnya kepada Bpk. Abdul Malik, S.Ag yang telah memberikan tugas makalah ini. Dan umumnya kepada rekan-rekan yang telah memberikan motivasi dalam bentuk moril maupun materiil.
Mudah-mudahan makalah ini dapat memberikan manfaat, dan semoga amal ibadah serta kerja keras kita, senantiasa mendapat ridho dan ampunan dari-Nya. Amin.


                                                                        Sukabumi,   Maret 2010
                                                                       
Penulis





I
 
 
DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .....................................................................................      i
DAFTAR ISI .....................................................................................................     ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah....................................................................     1
B.     Rumusan Masalah .............................................................................     2
C.     Tujuan................................................................................................     2

BAB II PEMBAHASAN
A.    Psikologi............................................................................................     3
1.  Pengertian Psikologi.......................................................................     3
2.     Definisi Psikologi.........................................................................     4
3.        Obyek Psikologi..........................................................................     5
4.        Pendekatan Psikologi..................................................................     6
5.        Jenis-Jenis Psikologi....................................................................     7
6.        Metode-metode dalam Psikologi................................................     9
B.  Pendidikan.........................................................................................   12
1.      Pengertian Pendidikan.................................................................   12
2.      Tujuan Pendidikan.......................................................................   13
3.      Batasan tentang Pendidikan........................................................   14
4.      Unsur-Unsur Pendidikan.............................................................   16
C.  Peranan Psikologi dalam Pendidikan.................................................   17

BAB III KESIMPULAN...................................................................................   21
DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................   22


ii
 
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar